Tumburano Bukti Cinta Duru Balewula dan Wulangkiinokooti

KOLAKAPOS, Kendari--Permandian Tumburano yang berada di desa Lansilowo, Kecamatan Wawoni Utara, Kabupaten Konkep, Sultra, yang merupakan bukti keabadian cinta Duru Balewula dan Wulangkiinokooti, mereka yang saat itu menjalin kisah asmara, namun tidak direstui dengan kedua orang mereka.
Masyarakat setempat meyakini, permandian Tumburano (air jatuh) tersebut dengan ketinggian 80 m itu merupakan tempat melompatnya Duru Balewula sementara Wulangkiinokooti dengan tinggian 30 m. Kemudian Tumburano semakin banyak pengunjung maka semakin deras turun airnya, dan begitupula sebaliknya, sedikit pengunjung maka sedikit pula turun airnya.
Juru Rawat Permandian Tumbuhrano Rustam (77) bercerita Wulangkiinokooti itu terkenal sangat cantik pada zamannya. Ia dikaruniai memiliki kulit putih, sehingga makanan ataupun air yang masuk ditenggorokannya kelihatan, sementara Duru Balewula itu hanya seorang lelaki biasa. "Orang tua Wulangkiinokooti tidak setuju jika akan menikah dengan Duru Balewula," ucapanya. Senin, (27/08) Sore.
Pria paruh baya itu yang sudah sakit-sakitkan sesekali menghela nafasnya dan melanjutkan ceritanya, Duru Balewula itu kerjanya hanya menangkap ayam hutan, sementara Wulangkiinokooti merupakan keturunan bangsawan dan memiliki paras yang sangat cantik, sehingga kedua orang tua perempuan (Wulangkiinokooti, red) tidak merestui hubungan mereka. "Pada zaman itu kecantikan Wukangkiinokooti tidak yang sama dengan dia, karena dia memiliki kulit yang sangat putih yang diibaratkan bagaikan telur yang dibuka kulitnya," katanya.
Ia bercerita awal pertemuan Duru Balewula dan Walungkiinokooti saat itu laki-laki pergi menangkap ayam hutan, tiba tiba melihat perempuan di sebuah rumah, sehingga dirinya (Duru Balewula, red) menghapiri wanita tersebut. Setiap hari seperti itu hingga akhirnya saling menyukai dan jatuh cinta. Namun Duru Balewula harus menelan pil pahit karena tidak di sukai dengan Orang Tua Wangkiinokooti, hingga akhirnya mereka berjanji untuk mengakhiri hidupnya. "Mereka sebelum bunuh diri, Duru Balewula menghibur Wangkiinokooti menggunakan suling (Renta) setelah itu Wangkiinokooti melompat, kemudian Duru Balewula mengikat ayam dan sulingnya dibuang ke bawah dan kemudian ikut melompat," kenangnya.
Lanjut pria yang sudah berusia 77 tahun itu, permandian Air Terjun itu (Tumburano, red) sebenarnya sangat bagus untuk tempat berwisata, karena airnya yang sejuk, dan yang pasti tidak akan menyesal jika berkunjung di air terjun tersebut. "Muda-mudahan pemerintah memperbaiki aksesnya, agar banyak yang datang berkunjung," harapnya.
Rustam menyampaikan, kepada pemerintah setempat mau bekerja sama dengan dirinya, karena lahan itu merupakan milik orang tua kandungnya dan sudah berpuluh puluh tahun berkebun di permandia air terjun tersebut. Kemudian Pemda seharusnya memperbaiki infrastruktur permandian tersebut, karena permandian air terjun ini mempunyai potensi yang bagus, sehingga menarik masyarakat, khusunya masyarakat Sultra ataupun mancanegara untuk berkunjung di Tumburano. "Silahkan perbaiki jalanannya, karena jalanan itu yang utama, dengan demikian pasti akan banyak pengunjung yang datang. Namun Permandiannya jangan diapa-apakan, biarkan begitu saja, karena itu sudah bagus," tandasnya.
Banyak para pengunjung kehilangan emasnya ketika mandi mandi di air tenjun Tumburano, sehingga dirinya menghimbau kepada masyarakat yang akan datang untuk tidak memakai emas, ketika akan mandi di sini (Air Terjun, red) di air terjun tersebut. "Olehnya ketika akan mandi jangan memakai emas, karena pasti akan hilang, tidak tahu apa penyebabnya," tutup Rustam. (P2/hen)