Yayasan Kalla Luncurkan Penanaman Perdana Melalui Udara

  • Bagikan
KOLAKAPOS, Kendari--Proyek EQSI merupakan program pengembangan hutan berkelanjutan yang diimpelementasikan oleh Yayasan Kalla. Kemudian program ini mendapatkan dukungan dana dalam bentuk kemitraan dari Millenium Challanges Account-Indonesia (MCA-Indonesia) dan mendapat sambutan positif baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah propinsi Sultra. Program EQSI akan melaksanakan kegiatan di lima kabupaten yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra), yakni, Kolaka Utara (Kolut), Kolaka, Kolaka Timur (Koltim), Konawe dan Konawe Selatan (Konsel). Project Leader Rochmat Djatmiko mengatakan, program ini baru pertama kali dilakukan di indonesia, namun dirinya yakin program tersebut akan berhasil. Dan sebelum pihaknya melakukan penanaman terlebih dahulu melakukan survey atau pengecekan, tanaman apa yang cocok ditanam di area tersebut. "Bibit yang kami tanam itu sesuai dengan permintaan masyarakat, dan sesuai dengan survey yang kami lakukan, sehingga program yang kami canangkan itu akan berhasil," ucapnya. Rabu (13/09) malam. Tujuan besar dari program ini lanjutnya, untuk mengurangi angka kemiskinan, guna meningkatkan mata pencaharian masyarakat di indonesia khususnya di Sultra. Kemudian salah satu komponen program EQSI untuk menghutankan kembali hutan lahan kritis dengan target rehabilitasi seluas 7.000 Hektar. "Ini merupakan solusi jangka panjang untuk melindungi tanah dan mengendalikan erosi," tambah Rochmat. Dan kemudian penanamnya dilakukan dengan dua metode yakni penaburan benih dari udara (Air Seeding) dengan menggunakan helikopter dan penanaman secara manual. Dengan metode Air Seeding sangat sesuai untuk lokasi dengan akses yang terbatas. "Penanaman Air Seeding ini dilakukan agar tanah yang sulit dijangkau dapat kita dijangkau dan penanamannya sangat cepat," katanya. Rochmat saapan akrabnya menjelaskan, dari 7.000 Ha yang dicanangkan EQSI, 5.500 Ha akan direhabilitasi melalui Air Seeding dan 1.500 dilakukan dengan manual. Pada kawasan tersebut akan ditaburi berbagai jenis benih sesuai dengan hasil survey dan usulan masyarakat. "Jenis tumbuhan yang akan ditabur yakni, sengon laut, sengon buto, akasia magnium, gmelina, kaliandra merah, dan kaliandra putih," imbuh pria 34 tahun itu. Rochmat berharap, program reforestasi hutan dan lahan kritis dapat mendukung tercapainya iklim yang kondusif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Secara tidak langsung juga berdampak pada adaptasi perkebunan kakao terhadap perubahan iklim, dan menjaga integritas kawasan dan ekosistem di lima kabupaten tersebut. "Dengan begitu desa akan menjadi kekuatan elonomi yang melahirkan berbagai usaha tani hutan dan kebun," jelasnya. Di tempat yang sama Kepala Bagian Ekonomi dan sumber daya alam yang mewakili Bappeda Sultra Eka Paski mengatakan, kegiatan reforestasi adalah menghutankan kembali hutan dan lahan kritis. Secara umum lahan lahan tersebut terletak di dalam kawasan hutan. "Pada lahan kawasan hutan, refortasi EQSI memfasilitasi petani untuk mendapatkan akses secara sah di dalam mengelola dan memanfaatkan lahan hutan tersebut," ujarnya. (p2/hen)
  • Bagikan

Exit mobile version