Korban Pengeroyokan Terpaksa Mengungsi

KOLAKAPOS, Kendari--Pelaku pengeroyokan Endang (30) mendatangi Rumah Korban Rahmat Parisi atau Fikran di Lorong Konggoasa BTN Sartika, kelurahan Watulondo, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, Sultra. Di duga pelaku tersebut mendatangi rumah korban, karena dilaporkan di polisi, dan pelaku mengancam korban (Fikran, red) akan memukulinya, sehingga Fikran terpaksa mengungsi.
Korban mengungsi akibat trauma akan dipukuli lagi seperti kekerasan yang terjadi sebelumnya dengan cara dikeroyok lagi. Dan korban berharap agar kedua saksi yang telah memberikan keterangan palsu agar dipanggil ulang untuk diperiksa.
Sementara itu, kuasa hukum korban, Iriadin, SH mengatakan, kasus tersebut akan dikawal selamanya hingga para pelaku dihukum, sebab dirinya meyakini penyidik memiliki kemampuan untuk mempertajam dan memperjelas interogasinya untuk mengungkap kebenaran. "Kalau saksi memberikan keterangan palsu sebenarnya kembali kepenyidiknya, saya meyakini mereka memiliki kemampuan mempertajam pertanyaan, sehingga keterangan palsu yang diberikan saksi dapat diketahui apa yang disampaikan benar atau berbohong," katanya.
Ditempat terpisah beberapa penyidik yang enggan ditulis namanya, baik dari Polda Sultra dan dari salah satu polsek di Kota Kendari menganggap, kasus pengeroyokan di Konggoasa Puuwatu itu sudah memenuhi unsur kekerasan. "Pertama, hasil visum menerangkan ada kekerasan, kedua, saksi menjemput dan melihat korban dikejar, dipitting dan dipaksa masuk ke dalam mobil pelaku, inikan bentuk kekerasan," katanya.
Mengsingkronkan hasil visum adalah hal kedua, intinya, sudah ada kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama sesuai keterangan saksi yang menjemput itu, bukti visum sudah ada. Nanti pengembangannya, dia bawa kemana korban, dia apakan korban mulai dari pukul 11.30-15.30 Wita, mengapa korban diperlakukan seperti itu oleh para pelaku.
Sementara itu, korban menambahkan saat dirinya dikeroyok 11 September 2017 lalu, mukanya ditinju, lalu disuruh jongkok, ditendang, dan dinjak-injak. "Berkali kali dipukul dan diinjak, makanya benjol mukaku," kenangnya. (P2)